Ketika mendengar seorang pasien muda bunuh diri karena tak mampu membayar ongkos bus menuju rumah sakit untuk menjalani perawatan mentalnya, Dr. Chibanda merasa sangat terpukul. Ia pun mencari cara agar perawatan tersebut dapat lebih mudah diakses. Maka lahirlah program konseling unik yang disebut “Bangku Persahabatan,” dengan para terapis yang duduk di bangku-bangku tersembunyi di ruang publik, siap mendengarkan siapa pun yang membutuhkan pertolongan. Lalu, siapa yang ia latih sebagai terapis? Para nenek! “Mereka sudah tertanam dalam komunitas mereka,” ujar Dr. Chibanda. “Jadi, mereka memiliki kemampuan luar biasa untuk . . . membuat orang lain merasa dihormati dan dimengerti.”
Ketika suami Sun terserang stroke, hidupnya berubah drastis. Ia harus membantunya menjalani aktivitas sehari-hari dan menghadapi luapan emosi yang muncul. Selama 17 tahun, ia setia merawat suaminya. Namun, ketika suaminya terjatuh dan kesehatannya semakin memburuk, perawatan pun menjadi beban yang terlalu berat. Sun lalu jatuh dalam depresi. “Aku merasa telah kehilangan iman,” akunya, “dan aku tidak dapat melihat Allah.”
Lelah. Itulah yang dirasakan Satya setelah sembilan bulan bekerja di tempat yang baru. Sebagai pengikut Yesus, ia telah berusaha mengikuti prinsip-prinsip Allah dalam menyelesaikan masalah dan memimpin bagiannya. Namun, masalah yang berkaitan dengan pegawai tetap ada, dan sepertinya tidak banyak kemajuan yang dicapai oleh organisasi tempatnya bekerja. Satya ingin menyerah saja.
Sudah lebih dari setahun, Jim berjuang melawan penyakit saraf motorik. Kondisi saraf-saraf pada ototnya terus merosot, sehingga otot-ototnya melemah. Ia sudah kehilangan keterampilan motorik halusnya dan kemampuan mengendalikan anggota tubuhnya semakin surut. Ia tidak dapat lagi mengancing baju atau mengikat tali sepatu, dan mustahil baginya untuk memakai sumpit. Jim bergumul dengan kondisinya, dan bertanya, Mengapa Allah membiarkan hal ini terjadi? Mengapa aku, Tuhan?
“Hai, Poh Fang!” tulis seorang teman gereja dalam pesan singkat. “Untuk persekutuan kelompok kita bulan ini, ayo kita ajak semua orang untuk menerapkan Yakobus 5:16. Kita coba menciptakan lingkungan yang saling percaya dan dapat menjaga rahasia, supaya kita bisa terbuka untuk menceritakan dan saling mendoakan pergumulan hidup kita.”
Ini hanyalah permainan yang seru di persekutuan kaum muda. Namun, permainan tersebut memberikan sebuah pelajaran bagi kami: daripada menukar tetangga Anda, lebih baik berusaha menyayangi mereka. Cara permainannya: semua orang duduk melingkar, sementara satu orang berdiri di tengah-tengah lingkaran besar itu. Orang di tengah itu akan bertanya kepada salah satu orang yang duduk melingkar, “Apakah kamu mengasihi tetangga Anda?” Orang yang ditanya itu boleh menjawab ya atau tidak. Dengan kata lain, ia harus memutuskan apakah ia ingin menukar tetangganya dengan orang lain.
Hansle Parchment berada dalam kesulitan. Saat berangkat menuju lokasi pertandingan semifinal di Olimpiade Tokyo, ia salah naik bus dan tertinggal dari rombongan. Nyaris tak ada harapan untuk tiba tepat waktu di stadion. Namun, syukurlah ia bertemu Trijana Stojkovic, relawan yang membantu dalam ajang olahraga tersebut. Trijana memberi Parchment sejumlah uang untuk naik taksi. Parchment tiba tepat waktu untuk bertanding dalam semifinal itu, bahkan berhasil meraih emas dalam lomba lari gawang 110 meter. Setelah itu, ia mencari Stojkovic dan berterima kasih atas kebaikannya.
Sambil menunggu masa perkuliahan dimulai, Shin Yi yang berusia dua puluh tahun memutuskan untuk mengisi tiga bulan waktu liburannya dengan melayani bersama suatu lembaga misi kaum muda. Keputusan itu sepertinya diambil pada waktu yang tidak tepat, mengingat pembatasan sosial semasa COVID-19 yang mencegah diadakannya pertemuan tatap muka. Namun, Shin Yi segera menemukan jalan. “Kami tidak dapat bertemu anak-anak muda itu di jalanan, di pusat perbelanjaan, atau pujasera seperti biasa,” ia bercerita. “Namun, kami terus menjaga hubungan dengan anak-anak muda Kristen lewat Zoom untuk saling mendoakan, dan melayani mereka yang belum percaya melalui telepon.”
Dulu saya sering takut menghadapi hari Senin. Terkadang, saat turun dari kereta untuk pergi ke tempat kerja yang dulu, saya akan duduk sebentar di stasiun, mencoba berlama-lama untuk tiba di kantor, walaupun untuk beberapa menit saja. Jantung saya berdebar kencang saat memikirkan tenggat yang harus dikejar dan menghadapi suasana hati bos yang emosional.